Generasi Non Pejuang ?

Tidak terasa sudah 65 tahun Indonesia tercinta ini merdeka dari penjajahan dan mulai menapaki pemerintahan berlandaskan Pancasila. Tanggal 17 Bulan Agustus Tahun 1945 Ir. Soekarno memproklamasikan kemerdekaan ini dengan penuh kebanggaan dan disambut diseluruh Indonesia dengan gema “Merdeka!”. Masa itu informasi tidaklah secepat sekarang, tapi dengan kebanggaan kemerdekaan itu dengan cepat terdengar. Proklamasi itu di dengungkan di Jakarta, tapi kebanggaannya sampai ke Aceh di sebelah barat, ke Papua disebelah timur, ke Pulau Sebatik di utara dan Kupang di selatan. Negara ini tidaklah memiliki bangsa yang satu, tapi dengan kebhinekaan dari berbagai bangsa itu Indonesia lahir sebagai bangsa pemersatu dari berbagai bangsa yang membentuk Bangsa Indonesia. Aceh, Batak, Minang, Melayu, Padang, Medan, Dayak, Sunda, Jawa, Bali, Madura, Bugis, Ambon, Maluku, Papua dan banyak lagi bangsa yang menjadi pembentuk dari Bangsa Besar Indonesia. Bahkan bangsa imigran dari Cina, India dan bangsa lainnya pun menyatakan kesatuannya sebagai BANGSA INDONESIA.

Masa itu Indonesia menjadi Negara panutan dan percontohan bagi Negara lain yang ingin merdeka dari kolonialisme. Indonesia menerapkan dua perjuangan, perjuangan dengan perang dan perjuangan diplomasi inilah yang menjadi bahan percontohan Negara lain yang ingin merdeka. Ketika sekutu mendarat di Surabaya dengan sombong setelah memenangkan perang besar, Bung Tomo mengobarkan pertempuran yang menjadi neraka bagi pasukan sekutu. Sehingga sekutu terusir dengan rasa malu kalah dari bangsa pejuang yang baru kemarin sore merdeka. Cut Nyak Dien dan Tengku Umar tidak kenal lelah karena mereka mengetahui kalau Negara besar ini akan merdeka dan perjuangannya tidak akan sia-sia. Patimura ditimur menyandang golok besarnya menantang penjajah bersenjatakan peluru-peluru panas yang siap menghujam tubuhnya. Dulu Pejuang-pejuang kita dengan penuh kebanggaan berjuang menuntut kemerdekaan bangsa ini. Sebelum Negara lain memikirkan sebuah momentum kemerdekaan, bangsa kita sudah mengobarkan semangat kemerdekaan dengan kata-kata “MERDEKA!”, “ALLAHUAKBAR!” dan “TUHAN MEMBERKATI!”.

Bangsa Pejuang?. Apakah masih cocok disandang Negara Indonesia ketika masyarakatnya merasa termarginalkan oleh pemerintahan yang dibentuknya?. Masyarakat hanya mampu melihat elit-elit politik mereka bertengakar dan saling menyalahkan. Sementara Mahasiswa Indonesia sebagai generasi penerus bangsa bermetamorfosis menjadi preman demonstrasi. Bukankah DEMONSTRASI adalah cara menuntut dan mengingatkan sesuatu yang menjadi kepentingan bangsa?. Tapi kenapa menjadi sebuah tontonan adu pukul, kerusuhan, membakar ban dan perusakan fasilitas yang dibangun dari uang rakyat.

Dulu Bangsa ini disebut sebagai bangsa yang ramah tamah dan erat kekeluargaannya. Sungguh dilema jika  keramah tamahan bangsa ini hanya berlaku dulu tidak sekarang. Semenjak kemerdekaan kita memang sudah telah lahir 4 generasi dari para pejuang dahulu. Apakah kita bukan generasi yang menurunkan darah pejuang-pejuang yang ulet, penuh semangat, berani, mandiri, dan bangga menjadi bangsa Indonesia?. Bagaimana bisa sebuah bangsa yang menjadi panutan bangsa lain didunia menjadi terkucilkan dan tidak memiliki jati diri di jaman sekarang.

Tidak ada kebanggaan yang bisa disandangkan lagi kepada bangsa besar ini. Indonesia era 70-80an terkenal kehebatan bulu tangkisnya. Indonesia 80-90an adalah macan Asia yang siap tinggal landas. Indonesia 90-00an terancam bubar seperti Uni Soviet dan Yugoslavia. Terbukti Timor Timur menyatakan Referendumnya ditahun 1999 dan berubah menjadi Timor Leste. Hingga menjamur gerakan perlawanan diberbagai daerah seperti GAM (Gerakan Aceh Merdeka), RMS (Republik Maluku Selatan) dan OPM (Organisasi Papua Merdeka).

Diawal kemerdekaan Indonesia menjadi sebuah kekuatan politik luar negeri yang berpengaruh besar. ASEAN, Gerakan Non Blok, Konfrensi Asia-Afrika adalah beberapa organisasi dunia yang Indonesialah pencetus dan penggagasnya. Beda sekarang lain dulu, boleh dulu Indonesia berbangga dengan pengaruh politik luar negerinya. Tapi sekarang untuk mempertahankan dua buah pulau kecil tak berpenghuni di ujung Kalimantan (Sipadan & Ligitan) Indonesia tidak memiliki pengaruh lagi di mahkamah internasional. Sehingga hilanglah dua buah pulau kecil tersebut ketangan Malaysia. Pulau itu memanglah kecil dan tidak berpotensi jika dibandingkan pulau-pulau Indonesia lainnya yang ada 17.000 buah. Tapi besar sekali arti dari dua pulau kecil tersebut dihati masyarakat Indonesia.

Generasi ini sungguh tidak mengalir darah pejuang, generasi ini lebih menyepelekan hal besar dan membesar-besarkan hal sepele. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saja bukanlah generasi yang lahir dimasa perjuangan. Taufik Kiemas ketua MPR bukanlah generasi yang lahir dimasa perjuangan. Hari ini sangat sulit mencari generasi pejuang terdahulu, rata-rata mereka sudah menghadap penciptanya dan jika masih hiduppun mereka tersisihkan oleh keangkuhan elit politik. Generasi sekarang lebih mementingkan mencari kesalahan orang lain dari pada mencari kesalahan sendiri. Generasi sekarang lebih mementingkan emosi dibanding otak dingin. Generasi Korupsi boleh, Generasi Perusuh oke, Generasi yang tidak memikirkan saudara lebih tepatnya. GENERASI NON PEJUANG????.

Note :

1. Pemerintahan Indonesia mulai kehilangan jalurnya untuk mensejahterakan rakyatnya. Pemerintah mulai membangun kembali jalur tersebut dan mendapatkan kembali kepercayaan masyarakat. Ditengah pembangunan rel tersebut Pemerintah banyak digoyang kisah korupsi dan mafia kasus.

2. DPR/MPR penuh hiruk pikuk dengan elit politik yang mementingkan teman, saudara, golongan dan pribadinya dibandingkan bangsa, masyarakat dan nasionalismenya.

3. Militer Indonesia seperti macan ompong ditengah macan-macan Asiapasifik baru di sekelilingnya. 200 F-16 di Asia Tenggara cukup menjadikan Singapura sebagai Negara yang bisa saja meledek Indonesia yang tinggal belasan buah F-16nya. Malaysia baru saja membeli Kapal Selam Scorpen dan jumlahnya 4 buah, Indonesia memiliki 2 buah kapal selam yang sudah seharusnya dipensiunkan.

4. Mahasiswa generasi penerus bangsa memiliki darah pejuang, tapi sayang darah pejuang itu terlalu mengikuti emosi mereka sehingga jika mereka demonstransi maka akhirnya akan terjadi kerusuhan dan keonaran.

Tentang museumindo

Menyediakan informasi seputar sejarah diindonesia dengan anekdot langsung dari penulis yang memperlihatkan keindonesiaan indonesia
Pos ini dipublikasikan di Indonesiana. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s